Literasi.id

Rabu, 07 September 2016

Sejarah Prasasti Kayu Ara Hiwang

Prasasti Kayu Ara Hiwang memuat peristiwa pematokan tanah perdikan untuk Desa Kayu Ara Hiwang untuk suatu biara dari Parivutan yang dilakukan pada tanggal 5 Oktober 901 M atau 823 Saka. Berdasarkan prasasti tersebut menunjukkan Desa Boro Wetan (Kecamatan Banyuurip) telah ada pemukiman sebelum tanggal 5 Oktober 901 (823) saka. Prasasti ini cukup penting karena mengungkap nama pejabat maupun tempat di sekitar daerah aliran Sungai Bogowonto dan terdapat persamaan dengan Prasasti Sipater yang ditemukan di Masjid Tiban Jenar Kidul Kecamatan Purwodadi.
Sejak tahun 1890, prasasti kayu Ara Hiwang disimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor inventaris D-78.

SEJARAH

Prasasti itu mengisahkan kehidupan masyarakat di sepanjang sungai Bogowonto pada abad 8 masehi. Prasasti tertanggal 5 paro gelap, hari Senin Pahing Wukurung bulan Asuji tahun 823 Saka atau 5 Oktober 901 Masehi. Wilayah Arahiwang disebut memiliki struktur masyarakat dan aktifitas keagamaan.
Prasasti itu dipakai sebagai dasar penentuan hari jadi Purworejo karena prasasti itu masih tersimpan di Museum Nasional Jakarta dengan inventaris nomor d 87.
”Peristiwa yang tercatat dalam prasasti itu adalah penetapan Desa Kayu Arahiwang menjadi tanah perdikan oleh Rakai Wanua Poh Dyah Sala Putra Sang Ratu Bajra, utusan Raja Mataram kuno” 
Hingga kini penetapan Hari Jadi Purworejo masih menyisakan kontroversi. Banyak versi sejarah lain yang menyebutkan hari lahir Purworejo bukan pada 5 Oktober 901. Versi sejarah alternatif itu mendasarkan pada prasasti Ayam Teas I, Perjanjian Giyanti dan Perang Diponegoro.
‘’Karena sudah ditetapkan jadi Perda, hendaknya produk hukum itu bisa kita hormati dan menjadi pijakan bersama. Kecuali jika ada faktu baru yang lebih kuat, bukan tidak mungkin peraturan itu ikut diubah,’’ jelasnya.
Sementara, sendratari yang dipentaskan di dekat lokasi penemuan prasasti Kayu Arahiwang terdiri dari tujuh episode. Episode pertama menceritakan kehidupan warga Desa Kayu Arahiwang yang sejahtera.
Selanjutnya, diceritakan proses penetapan wilayah itu menjadi tanah bebas pajak karena kemakmuran dan kehidupan agama yang berkembang. Episode lain menceritakan perayaan peresmian tanah perdikan dan harapan yang menyertainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Praktik Pendidikan Agama Islam SMAN 11 Purworejo

                                                    Praktik Pendidikan Agama Islam SMAN 11 Purworejo https://www.youtube.com/watch?v=u2jqfjW...